Awan hitam
masih terus memayungi kedua gadis remaja itu,kegelisahan dan kegundahan silih
berganti bergelayut dihati mereka. Dibawah langit senja yang menguning mereka
mencoba mencari sebuah jawaban, entah mengapa kata cinta seolah terus menjauh
dari hidup mereka. 2 tahun sudah mereka berjalan diatas sebuah pengharapan,
penantian panjangpun terus mereka tapaki tapi satu hal yang dicari tak pernah
kunjung ditemui. Apalagi kalau sebuah cinta, yach…selama ini mereka cemas
dengan kesendiriannya, usianya memang masih belia, masih 20 tahun. Tapi
kekhawatiran mendalam tak bisa mereka tutupi lagi. “bagaimana bisa kita
mendapatkan imam yang shaleh jika samapai saat ini kita tak diberi kesempatan
untuk bisa sekedar menilai dan memilih laki-laki mana yang kelak bisa menjadi
imam untuk kita. Bukankah intuk mendapatkan semua itu butuh proses? Bukankah
ini adalah waktu yang tepat untuk menuju sebuah prose situ?” pertanyaan it
uterus mereka lontarkan, namun sepertinya waktu masih bergeming, langit terus
saja diam dengan warnanya dan angin masihpun berlalu tanpa ada berita.
Sebenarnya
hati mereka telah tertambat pada seseorang, namun anehnya cinta mereka itu
ditambatkan pada lelaki yang sama sekali tidak mengenal diri mereka. Syafira
jatuh hati pada pria tampan bernama deni sedangkan lillah telah memberikan
cintanya pada mantra muda bernama ando.
Kekonyolan
ini bermula saat syafira tak sengaja melihat foto yang terpajang dikamar
annisa, sebuah foto laki-laki ganteng yang penuh pesona. Difoto tersebut
terlihat laki-laki itu memakai T-Shrit warna coklat dan kacamata hitam.
Pesonanyapun semakin terpancar karena laki-laki itu berfoto didalam mobil
avanza warna hitamnya. Selidik punya selidik ternya laki-laki itu sedang
mencari seorang calon pendamping yang bersedia menjadi makmum baginya, seorang
wanita yang shalehah dan berhijab. Ini sejalan dengan dirinya yang masih
sendiri, tanpa merasa dirinya adalah seorang wanita shalehah tapi hatinya
seolah mengatakan bahwa dia siap untuk menjadi makmum untuk laki-laki difoto
tersebut. Bukankah seorang pasanagan yang baik adalah seorang pasangan yang
bisa mengarahkan pasangannya menjadi orang yang lebih baik lagi?” fikirnya
dalam hati. dia sudah jatuh hati saat pertama melihat laki-laki difoto itu,
bukan semata karena dia tampan atau bermobil tapi lebih dari itu dia merasa
kalau lelaki itu adalah orang yang selama ini dia cari, lelaki itu dirasa
syafira bisa menjadi imam yang baik baginya itu semua karena annisa yang
merupakan sodara lelaki dalam foto tadi telah menjabarkan sifat-sifatnya.
Sementara
lillah, musibah yang mengharuskan neneknya masuk ke rumah sakit memberi berkah
tersendiri baginya. Di rumah sakit itulah dia bertemu dengan mantra kesehatan
bernama ando. Mantra itu memang tampan, berkharismatik dan juga kalem. Bawaanya
yang tenag dan sedikit dingin membuat hati lillah semakin luluh lantah pada pak
mantra itu. Namun siapa sangka dibalik sikapnya yang dingin dan tenag saat
menjadi seorang mantra ternyata dia adalah seorang yang humoris dan terkesan
sedikit urak-urakkan. Gaya bicaranya saat bersama teman-teman bermainnya sama
sekali tidak menyiratkan seorang bapak mantri yang berkharisma, bapak mantri
yang pertama dia kenal saat di rumah sakit.
Baik syafira
dan lillah hanya bisa mengekspresikan cintanya lewat mimpinya semata tanpa bisa
mengungkapkannya pada lelaki yang mereka cintai itu. Lillah sedikit beruntung,
dia bisa tahu semua tentang pak ando dari media social, setiap aktiftas atau
suasana hati pak ando selalu ditumpahkannya lewat facebook, sebuah media yang
mudah diakses oleh siapa saja, berbeda dengan syafira dia tak bisa mengetahui
bagaimana perasaannya kak deni sekarang, apa yang sedang dilakukan kak deni
sekarang, ini karena kak deni memang tidak terlalu suka dengan hal-hal
tersebut, kesibukkannya sebagai pak pos juga usia yang sudah tidak “muda” lagi
mungkin menjadi alasan yang membuat dia agak enggan untuk berbagi cerita
dimedia seperti itu. Hanya lewat cerita yang minim dari annisa yang sedikit
mengurangi rasa penasarannya terhadap kak deni.
Mekipun
syafira belum pernah bertemu langsung dengan kak deni dan meskipun pertemuan
yang sangat singkat antara lillah denagn pak ando tidak lantas membuat cinta
mereka meredup. Rasa cinta it uterus tumbuh dan bersemi dihati kedunya, ini
memang sedikit diluar logika tapi mungkin ini justru yang dinamakan cinta. Kita
tidak akan pernah tahu kepada siapa kita akan jatuh cinta kita juga tidak
pernah tahu dengan cara apa kita mencintai pasanagan kita.
“apakah kita
sudah gila bi mencintai orang yang sama sekali tidak mengenal kita, bukankah
kita hanya akan membuang waktu-waktu saja?” Tanya lillah rintih.
“entahlah,
bibi juga tidak tahu. Hanya yang jelas bibi merasa hati bibi sudah tertambat
pada kak deni, dan bibi berharap kalau dialah yang kelak menjadi imam untuk
bibi.” Jawab syafira penuh harap.
“akupun
seperti itu bi, aku belum pernah mencintai seseorang seperti aku mencintai pak
ando. dia dambaanku, dan aku harap dia adalah jodohku.”
“apakah
sebuah dosa jika kita berkhayal diluar kemampuan kita? Apakah tidak berlebihan
jika kita mengharapkan lelaki asing untuk menjadi jodoh kita.” Kecemasan mulai
menghantui diri syafira.
“wallahu
a’lam. Yang aku tahu cinta adalah sebuah fitrah yang Allah anugrahkan dalam
diri setiap manusia, dan dalam hal ini aku serahkan semuanya pada Allah yang
maha mengerti segalanya.”
“kau benar,
semua ini akan terlalu sulit jika hanya dipenuhi dengan ketakutan. Aku yakin
selama kita mencintai lelaki yang masih sendiri Allah masih meridhai. Semoga
Allah mengampuni kekeliruan ini.”
***
Siang malam
silih berganti menyapa hari mereka, hari berganti minggu, minggu berganti bulan
dan setiap detik waktu itu mereka penuhi dengan sebuah pengharapan dan
penantian. Meski keraguan sering kali mengusik namun mereka tetap yakin akan
besarnya cinta yang mereka miliki. Mereka percaya akan kekuatan Allah, Tuhan
Yang Maha Berkuasa, yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Jika Allah
berkehendak apapun bisa terjadi, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Setiap malam
syafira dan lillah terbangun dari tidurnya, mereka saling mengingatkan dan
mengajak satu sama lainnya untuk bermunajat pada sang pemilik hati, dalam
sujudnya mereka tasbihkan semua pinta dan harapnya selama ini. Mereka tumpah
ruahkan angan dan keinginannya agar suatu saat Tuhan mewujudkan mimpi mereka
mereka menjadi sebuah kenyataan.
Tak ada
waktu yang terlewati tanpa membicarakan pak pos(panggilan untuk kak deni) dan
pak mantra(panggilan untuk pak ando) jika mereka bertemu. Syafira dan lillah
percaya bahwa setiap ucapan itu adalah doa. Mereka berharap dengan baik pak pos
maupun pak mantra dapat merasakan apa yang mereka rasakan selama ini walaupun
mereka tidak mengenal syafira dan lillah.
Drama pun
terjadi saat syafira dan lillah mendapat tugas dari dosennya. Awalnya mereka
membrowsing materi “otonomi daerah” untuk bahan presentasi mereka nanti, namun
lillah iseng membuka facebooknya milik pak ando, dan betapa terkejutnya lillah
saat itu saat dia mendapati bahwa kini pak ando telah berganti status menjadi
tunangan. Syafira yang saat itu berada disamping lillah bisa merasakan betul
sakit yang dirasakan sepupunya itu. Dia bisa melihat kekecewaan yang mendalam
juga diraut wajah lillah. Matanya yang bening seolah ingin memeteskan air namun
lillah tetap mencoba tegar.
“hal yang
selama ini ditakutkan akhirnya terjadi, kali ini lillah yang merasa kehilangan
dan mungkin selanjutnya giliran aku. Aku hanya tinggal menunggu waktu untuk
mendengar kabar bahwa pak pos kini telah menemukan tambatan hatinya, lalu kalau
sudah begitu, apa yang bisa aku lakukan?” fikir syafira dalam hati. ia seolah
mendapat firasat buruk dari kejadian yang dialami lillah, cepat atau lambat itu
akan terjadi, dan pasti terjadi jika aku dan pak pos tidak pernah dipertemukan.
Sebulan
berlalu masih jelas Nampak kesedihan dihati lillah, meski dia mengataka bahwa
dia baik-baik saja tapi syafira tahu betul kalau sepupunya itu sedang
berbohong. Syafirapun masih dengan kegundahannya, entah apa yang ada didalam
benak syafira tapi akhir-akhir ini dia selalu merasa gelisah. Tiba-tiba matanya
tertuju pada kalender yang terpampang di dinding kamar, “24 januari, buakankah
hari ini adalah hari ulang tahunnya pak pos? berarti hari ini dia genap berusia
26 tahun. Usia yang matang untuk lelaki yang mapan seperti pak pos!” fikiran itu merasuk begitu saja dalam otak
syafira. Dan seperti yang telah memiliki ikatan batin satu smspun masuk ke
inbixnya, sms dari annisa. Sebuah sms yang langsung membuatnya berlinangan air
mata.
“ra aku
minta maaf, ternyata pak pos sudah mempunyai calaon pendaming. Namanya putri,
usianya sama seperti kamu 20 tahun, sepertinya hubungan mereka sudah serius.
Kalau tidak ada halangan minggu depan pak pos akan memperkenalkan calonnya itu
ke keluarga besar kami saat pertemuan keluarga di maja lengka nanti. Jujur
akupun kaget mendengar berita ini, tanteku memang sengaja merahasiakan berita
ini kepada kami sampai dia benar-benar yakin dengan hubungannya pak pos. aku
minta maaf ra, aku sama sekali tidak bermaksud membohongimu atau memberikan
harapan palsu padamau. Aku harap aku mengerti.”
Mengetahui
berita itu syafira langsung kerumahnya lillah, disaat seperti ini dia memang
membutuhkan seseorang untuk bercerita, dan siapa lagi orangnya kalau bukan
lillah, tempat dia Selma ini berkeluh kesah tentang pak pos.
“ada apa bi,
kenapa menagis?” lillah kaget denagn kedatangan syafira yang langsung
memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.
“semua
harapanku telah berakhir, aku telah kehilangan pak pos.” ujar syafira
terbata-bata.
“ternyata
pak pos selama ini sudah mempunyai pacar, dan minggu depan pacarnya itu akan
dikenalkan pada keluarga besar pak pos di majalengaka, aku yakin sebentar lagi
mereka akan tunanga bahkan mungkin menikah.” Lillah hanya bisa membelai rambut
sepupunya itu, ia bingung melihat syafira teus menagis tak kuasa menahan
kesedihannya itu.
“apakah
cinta memang bukan untuk kita? Sehina itu kah kita hingga tidak berhak untuk
dicintai?” keluh syafira.
“yang sabar
ya bi, aku mengerti perasaan bibi. Aku juga mengalami hal yang seperti yang
bibi alami tapi kita tidak boleh berputus asa dengan takdir Allah, aku yakin
dia pasti merencanakan hal lain yang lebih indah untuk kita.” Dengan lembut
lillah menghapus air mata syafira, dia mencoba menguatkan syafira walaupun
sebenarnya hatinyapun tengah sakit menahan luka yang selama ini tergores karena
telah kehilangan.
***
Setelah
semua kejadian itu akhirnya syafira dan lillah memtuskan untuk melupakan sosok
laki-laki yang selama ini menjadi tambatan hati mereka, mereka tahu cinta
mereka hanya bertepuk sebelah tangan.Hari demi hari mereka lalui dengan penuh
kehampaan dan sejuta sandiwara. Seolah membohongi perasaan masing-masing mereka
mencoba untuk tetap terlihat baik-baik saja.
Malam
dikesunyian syafirapun bangun dari tidurnya, diambilnya air wudhu untuk
kemudian solat tahajud. Air matapun tak kuasa ia bendung tat kala bayang-bayang
kak deni hadir disela-sela rakaat sholatnya, seolah tak sanggup lagi menahan
beban dan kebohongan yang selama ini dia sembunyikan syafira menumpah ruahkan
semua kegelisahan dan perasaannya pada allah azza wajjala.
“Ya
Rabb…jika cinta ini tidak halal bagiku maka hilangkanlah, gantikan dia dengan
yang lebih baik menurut Mu dan persatukanlah kami kedalam ridho Mu. Engkau yang
maha mengetahui mana yang terbaik untuk hamba Mu ini, namun engkau jua yang
lebih mengetahui perasaan ku selama ini. Ampuni hamba yang masih mencintainya,
sekiranya Engkau ridho maka perasatukanlah kami ya Rabb”
Itulah
sebutir doa yang terpanjat didalam munajat syafira. Sebuah doa yang serupa juga
dipanjatkan oleh lillah, jujur dihati kecil lillah masih tersimpan rasa cinta
untuk pak ando, rasa itu sebenarnya tak pernah hilang walau kini dia tahu ando
sudah memiliki wanita lain. Rasa itu justru semakin bertambah besar, entahlah!
Cemas dan
risau, itulah yang dirasakan oleh kedua gadis itu. Bagi mereka mencintainya
atau melupakannya tetap akan sama-sama membuat hati mereka hancur. Mereka tak
ingin terbelunggu oleh cinta buta yang selama ini mereka miliki, apalagi kini
laki-laki yang mereka cinta telah menambatkan hatinya kepada wanita lain. Namun
jika harus melupakannya itu berarti juga mereka harus melupakan semua mimpi
yang sudah terlanjur teretas dalam imaji dan alam khayal mereka. Mimpi itu
terlalu indah dan sudah banyak memberikan kebahagiaan juga suntikan semangat,
jika cinta itu hilang maka hilang pulalah kebahagiaan yang selalu memberikan
mereka semangat itu.
Setahun
berlalu tak ada yang berubah dengan cerita cinta syafira dan lillah, mereka
masih mencintai orang yang sama namun sayangnya kak deni dan pak ando masih
bersama dengan wanita pilihannya. Entah apa yang Allah rahasiakan untuk kedua
gadis itu, sampai saat ini Allah masih menyimpan misteri tentang cinta yang
entah akan dilabuhkan dimana.
Aroma hari
kemenangan telah tercium baunya, mentari senja yang menguning perlahan-lahan
redup tergantikan sinar rembulan. Ada nuansa yang berbeda untuk lebaran kali
ini, syafira lebih memilih mengurung diri di kamar dibandingkan bersenda gurau
atau menikmati gemerlapan cahaya kembang api dan suara petasan yang membahana
saat malam takbir. Dia teringat malam takbir tahun kemarin, dengan penuh
keyakinan dirinya bersama lillah pernah mengutarakan niatnya untuk melewati
malam takbir tahun ini bersama kak deni dan pak ando dihalaman rumah syafira
sambil menyalakan kembang api, namun ternyata harapan itu harus mereka kubur
dalam-dalam karena sampai tiba waktunya kini kak deni dan pak ando tidak ada
disamping mereka.
“dan
orang-orang yang berkata “ ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenag hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’. Mereka itulah orang yang
dibalasi dengan martabat yang tinggi 9dalam surge) karena kesabaran mereka dan
mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya.”
Air matapun
tak kuasa dibendung lagi, betapa hati syafira terenyuh dengan sabdaan Tuhan
yang baru dibacanya, kini dia baru tersadar betapa dia sudah melupakan satu
hal, yakni ‘kesabaran’. Tak sepantasnya dia merasa kecewa jika saat ini tak
adapak pos disampingnya, seharusnya dia mengert satu hal, Tuhan selalu
memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya, jika samapai saat ini Allah belum
mengabulkan doanya itu karena Allah syang kepadanya, Allah tak ingin dirinya
berbuat dosa dari hanya sekedar “berpacaran”,
hal yang samapun dirasakan oleh lillah, betapa dia menyesal karena sudah
berburuk sangka kepada Allah selam ini, diambil air wudhu oleh kedua gadis itu,
wajah yang tadi terlinangkan air mata kini tergantikan oleh basahnya air wudhu
yang suci, mereka bersimpuh dihadapan Tuhannya lewat shalat dan sujud mereka,
mereka terus larut dalam doa dan tasbih ditengah gema takbir yang berkumandang
dimalam itu, hingga akhirnya fajar menyapa mereka.
***
Mereka
saling menatap sambil melempar senyum nakal dibibirnya, mereka berpelukan dan
kembali tak kuasa menahan tangis, kali ini bukan tangis kepedihan yang teruai,
melainkan tangis haru saat hari yang fitri itu datang.
“kau pasti
tak henti-hentinya menagisi pak pos kan, sampai-sampai bola matamu membesar 2
kali lipat saking sembabya” goda Lillah sok tahu.
“sok ngejek
lagi, matamu tuh yang membesar 2 kali lipat…!” balas syafira melihat mata
lillah sama sembabnya.”
Sejenak
mereka terdiam, ada kesunyian yang mencekam diantara mereka berdua.
“kini aku
ikhlas Ra dengan takdirku, aku pasrah dengan apapun yang Tuhan berikan.”
“akupun
begitu, jika memang ini jalannya maka aku akan laluinya dengan kepasrahan”
“aku yakin
Tuhan itu sedang menjaga kita dari fitnah, aku akan bersabar menanti pujaan
hatiku, jika dia memang tulung rusukku maka siapapun dia dan dimanapun dia
berada aku yakin dia akan datang menjemputku dan membawaku kedalam mahligai
kebahagiaan.”
“semua akan
indah pada saatnya, WALLAHI….!aku akan
bersabar menanti takdir itu…J!