Jumat, 09 November 2012

Linang air mata cinta


Awan hitam masih terus memayungi kedua gadis remaja itu,kegelisahan dan kegundahan silih berganti bergelayut dihati mereka. Dibawah langit senja yang menguning mereka mencoba mencari sebuah jawaban, entah mengapa kata cinta seolah terus menjauh dari hidup mereka. 2 tahun sudah mereka berjalan diatas sebuah pengharapan, penantian panjangpun terus mereka tapaki tapi satu hal yang dicari tak pernah kunjung ditemui. Apalagi kalau sebuah cinta, yach…selama ini mereka cemas dengan kesendiriannya, usianya memang masih belia, masih 20 tahun. Tapi kekhawatiran mendalam tak bisa mereka tutupi lagi. “bagaimana bisa kita mendapatkan imam yang shaleh jika samapai saat ini kita tak diberi kesempatan untuk bisa sekedar menilai dan memilih laki-laki mana yang kelak bisa menjadi imam untuk kita. Bukankah intuk mendapatkan semua itu butuh proses? Bukankah ini adalah waktu yang tepat untuk menuju sebuah prose situ?” pertanyaan it uterus mereka lontarkan, namun sepertinya waktu masih bergeming, langit terus saja diam dengan warnanya dan angin masihpun berlalu tanpa ada berita.
Sebenarnya hati mereka telah tertambat pada seseorang, namun anehnya cinta mereka itu ditambatkan pada lelaki yang sama sekali tidak mengenal diri mereka. Syafira jatuh hati pada pria tampan bernama deni sedangkan lillah telah memberikan cintanya pada mantra muda bernama ando.
Kekonyolan ini bermula saat syafira tak sengaja melihat foto yang terpajang dikamar annisa, sebuah foto laki-laki ganteng yang penuh pesona. Difoto tersebut terlihat laki-laki itu memakai T-Shrit warna coklat dan kacamata hitam. Pesonanyapun semakin terpancar karena laki-laki itu berfoto didalam mobil avanza warna hitamnya. Selidik punya selidik ternya laki-laki itu sedang mencari seorang calon pendamping yang bersedia menjadi makmum baginya, seorang wanita yang shalehah dan berhijab. Ini sejalan dengan dirinya yang masih sendiri, tanpa merasa dirinya adalah seorang wanita shalehah tapi hatinya seolah mengatakan bahwa dia siap untuk menjadi makmum untuk laki-laki difoto tersebut. Bukankah seorang pasanagan yang baik adalah seorang pasangan yang bisa mengarahkan pasangannya menjadi orang yang lebih baik lagi?” fikirnya dalam hati. dia sudah jatuh hati saat pertama melihat laki-laki difoto itu, bukan semata karena dia tampan atau bermobil tapi lebih dari itu dia merasa kalau lelaki itu adalah orang yang selama ini dia cari, lelaki itu dirasa syafira bisa menjadi imam yang baik baginya itu semua karena annisa yang merupakan sodara lelaki dalam foto tadi telah menjabarkan sifat-sifatnya.
Sementara lillah, musibah yang mengharuskan neneknya masuk ke rumah sakit memberi berkah tersendiri baginya. Di rumah sakit itulah dia bertemu dengan mantra kesehatan bernama ando. Mantra itu memang tampan, berkharismatik dan juga kalem. Bawaanya yang tenag dan sedikit dingin membuat hati lillah semakin luluh lantah pada pak mantra itu. Namun siapa sangka dibalik sikapnya yang dingin dan tenag saat menjadi seorang mantra ternyata dia adalah seorang yang humoris dan terkesan sedikit urak-urakkan. Gaya bicaranya saat bersama teman-teman bermainnya sama sekali tidak menyiratkan seorang bapak mantri yang berkharisma, bapak mantri yang pertama dia kenal saat di rumah sakit.
Baik syafira dan lillah hanya bisa mengekspresikan cintanya lewat mimpinya semata tanpa bisa mengungkapkannya pada lelaki yang mereka cintai itu. Lillah sedikit beruntung, dia bisa tahu semua tentang pak ando dari media social, setiap aktiftas atau suasana hati pak ando selalu ditumpahkannya lewat facebook, sebuah media yang mudah diakses oleh siapa saja, berbeda dengan syafira dia tak bisa mengetahui bagaimana perasaannya kak deni sekarang, apa yang sedang dilakukan kak deni sekarang, ini karena kak deni memang tidak terlalu suka dengan hal-hal tersebut, kesibukkannya sebagai pak pos juga usia yang sudah tidak “muda” lagi mungkin menjadi alasan yang membuat dia agak enggan untuk berbagi cerita dimedia seperti itu. Hanya lewat cerita yang minim dari annisa yang sedikit mengurangi rasa penasarannya terhadap kak deni.
Mekipun syafira belum pernah bertemu langsung dengan kak deni dan meskipun pertemuan yang sangat singkat antara lillah denagn pak ando tidak lantas membuat cinta mereka meredup. Rasa cinta it uterus tumbuh dan bersemi dihati kedunya, ini memang sedikit diluar logika tapi mungkin ini justru yang dinamakan cinta. Kita tidak akan pernah tahu kepada siapa kita akan jatuh cinta kita juga tidak pernah tahu dengan cara apa kita mencintai pasanagan kita.
“apakah kita sudah gila bi mencintai orang yang sama sekali tidak mengenal kita, bukankah kita hanya akan membuang waktu-waktu saja?” Tanya lillah rintih.
“entahlah, bibi juga tidak tahu. Hanya yang jelas bibi merasa hati bibi sudah tertambat pada kak deni, dan bibi berharap kalau dialah yang kelak menjadi imam untuk bibi.” Jawab syafira penuh harap.
“akupun seperti itu bi, aku belum pernah mencintai seseorang seperti aku mencintai pak ando. dia dambaanku, dan aku harap dia adalah jodohku.”
“apakah sebuah dosa jika kita berkhayal diluar kemampuan kita? Apakah tidak berlebihan jika kita mengharapkan lelaki asing untuk menjadi jodoh kita.” Kecemasan mulai menghantui diri syafira.
“wallahu a’lam. Yang aku tahu cinta adalah sebuah fitrah yang Allah anugrahkan dalam diri setiap manusia, dan dalam hal ini aku serahkan semuanya pada Allah yang maha mengerti segalanya.”
“kau benar, semua ini akan terlalu sulit jika hanya dipenuhi dengan ketakutan. Aku yakin selama kita mencintai lelaki yang masih sendiri Allah masih meridhai. Semoga Allah mengampuni kekeliruan ini.”
*** 
Siang malam silih berganti menyapa hari mereka, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan setiap detik waktu itu mereka penuhi dengan sebuah pengharapan dan penantian. Meski keraguan sering kali mengusik namun mereka tetap yakin akan besarnya cinta yang mereka miliki. Mereka percaya akan kekuatan Allah, Tuhan Yang Maha Berkuasa, yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Jika Allah berkehendak apapun bisa terjadi, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Setiap malam syafira dan lillah terbangun dari tidurnya, mereka saling mengingatkan dan mengajak satu sama lainnya untuk bermunajat pada sang pemilik hati, dalam sujudnya mereka tasbihkan semua pinta dan harapnya selama ini. Mereka tumpah ruahkan angan dan keinginannya agar suatu saat Tuhan mewujudkan mimpi mereka mereka menjadi sebuah kenyataan.
Tak ada waktu yang terlewati tanpa membicarakan pak pos(panggilan untuk kak deni) dan pak mantra(panggilan untuk pak ando) jika mereka bertemu. Syafira dan lillah percaya bahwa setiap ucapan itu adalah doa. Mereka berharap dengan baik pak pos maupun pak mantra dapat merasakan apa yang mereka rasakan selama ini walaupun mereka tidak mengenal syafira dan lillah.
Drama pun terjadi saat syafira dan lillah mendapat tugas dari dosennya. Awalnya mereka membrowsing materi “otonomi daerah” untuk bahan presentasi mereka nanti, namun lillah iseng membuka facebooknya milik pak ando, dan betapa terkejutnya lillah saat itu saat dia mendapati bahwa kini pak ando telah berganti status menjadi tunangan. Syafira yang saat itu berada disamping lillah bisa merasakan betul sakit yang dirasakan sepupunya itu. Dia bisa melihat kekecewaan yang mendalam juga diraut wajah lillah. Matanya yang bening seolah ingin memeteskan air namun lillah tetap mencoba tegar.
“hal yang selama ini ditakutkan akhirnya terjadi, kali ini lillah yang merasa kehilangan dan mungkin selanjutnya giliran aku. Aku hanya tinggal menunggu waktu untuk mendengar kabar bahwa pak pos kini telah menemukan tambatan hatinya, lalu kalau sudah begitu, apa yang bisa aku lakukan?” fikir syafira dalam hati. ia seolah mendapat firasat buruk dari kejadian yang dialami lillah, cepat atau lambat itu akan terjadi, dan pasti terjadi jika aku dan pak pos tidak pernah dipertemukan.
Sebulan berlalu masih jelas Nampak kesedihan dihati lillah, meski dia mengataka bahwa dia baik-baik saja tapi syafira tahu betul kalau sepupunya itu sedang berbohong. Syafirapun masih dengan kegundahannya, entah apa yang ada didalam benak syafira tapi akhir-akhir ini dia selalu merasa gelisah. Tiba-tiba matanya tertuju pada kalender yang terpampang di dinding kamar, “24 januari, buakankah hari ini adalah hari ulang tahunnya pak pos? berarti hari ini dia genap berusia 26 tahun. Usia yang matang untuk lelaki yang mapan seperti pak pos!”  fikiran itu merasuk begitu saja dalam otak syafira. Dan seperti yang telah memiliki ikatan batin satu smspun masuk ke inbixnya, sms dari annisa. Sebuah sms yang langsung membuatnya berlinangan air mata.
“ra aku minta maaf, ternyata pak pos sudah mempunyai calaon pendaming. Namanya putri, usianya sama seperti kamu 20 tahun, sepertinya hubungan mereka sudah serius. Kalau tidak ada halangan minggu depan pak pos akan memperkenalkan calonnya itu ke keluarga besar kami saat pertemuan keluarga di maja lengka nanti. Jujur akupun kaget mendengar berita ini, tanteku memang sengaja merahasiakan berita ini kepada kami sampai dia benar-benar yakin dengan hubungannya pak pos. aku minta maaf ra, aku sama sekali tidak bermaksud membohongimu atau memberikan harapan palsu padamau. Aku harap aku mengerti.”
Mengetahui berita itu syafira langsung kerumahnya lillah, disaat seperti ini dia memang membutuhkan seseorang untuk bercerita, dan siapa lagi orangnya kalau bukan lillah, tempat dia Selma ini berkeluh kesah tentang pak pos.
“ada apa bi, kenapa menagis?” lillah kaget denagn kedatangan syafira yang langsung memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.
“semua harapanku telah berakhir, aku telah kehilangan pak pos.” ujar syafira terbata-bata.
“ternyata pak pos selama ini sudah mempunyai pacar, dan minggu depan pacarnya itu akan dikenalkan pada keluarga besar pak pos di majalengaka, aku yakin sebentar lagi mereka akan tunanga bahkan mungkin menikah.” Lillah hanya bisa membelai rambut sepupunya itu, ia bingung melihat syafira teus menagis tak kuasa menahan kesedihannya itu.
“apakah cinta memang bukan untuk kita? Sehina itu kah kita hingga tidak berhak untuk dicintai?” keluh syafira.
“yang sabar ya bi, aku mengerti perasaan bibi. Aku juga mengalami hal yang seperti yang bibi alami tapi kita tidak boleh berputus asa dengan takdir Allah, aku yakin dia pasti merencanakan hal lain yang lebih indah untuk kita.” Dengan lembut lillah menghapus air mata syafira, dia mencoba menguatkan syafira walaupun sebenarnya hatinyapun tengah sakit menahan luka yang selama ini tergores karena telah kehilangan.
***
Setelah semua kejadian itu akhirnya syafira dan lillah memtuskan untuk melupakan sosok laki-laki yang selama ini menjadi tambatan hati mereka, mereka tahu cinta mereka hanya bertepuk sebelah tangan.Hari demi hari mereka lalui dengan penuh kehampaan dan sejuta sandiwara. Seolah membohongi perasaan masing-masing mereka mencoba untuk tetap terlihat baik-baik saja.
Malam dikesunyian syafirapun bangun dari tidurnya, diambilnya air wudhu untuk kemudian solat tahajud. Air matapun tak kuasa ia bendung tat kala bayang-bayang kak deni hadir disela-sela rakaat sholatnya, seolah tak sanggup lagi menahan beban dan kebohongan yang selama ini dia sembunyikan syafira menumpah ruahkan semua kegelisahan dan perasaannya pada allah azza wajjala.
“Ya Rabb…jika cinta ini tidak halal bagiku maka hilangkanlah, gantikan dia dengan yang lebih baik menurut Mu dan persatukanlah kami kedalam ridho Mu. Engkau yang maha mengetahui mana yang terbaik untuk hamba Mu ini, namun engkau jua yang lebih mengetahui perasaan ku selama ini. Ampuni hamba yang masih mencintainya, sekiranya Engkau ridho maka perasatukanlah kami ya Rabb”
Itulah sebutir doa yang terpanjat didalam munajat syafira. Sebuah doa yang serupa juga dipanjatkan oleh lillah, jujur dihati kecil lillah masih tersimpan rasa cinta untuk pak ando, rasa itu sebenarnya tak pernah hilang walau kini dia tahu ando sudah memiliki wanita lain. Rasa itu justru semakin bertambah besar, entahlah!
Cemas dan risau, itulah yang dirasakan oleh kedua gadis itu. Bagi mereka mencintainya atau melupakannya tetap akan sama-sama membuat hati mereka hancur. Mereka tak ingin terbelunggu oleh cinta buta yang selama ini mereka miliki, apalagi kini laki-laki yang mereka cinta telah menambatkan hatinya kepada wanita lain. Namun jika harus melupakannya itu berarti juga mereka harus melupakan semua mimpi yang sudah terlanjur teretas dalam imaji dan alam khayal mereka. Mimpi itu terlalu indah dan sudah banyak memberikan kebahagiaan juga suntikan semangat, jika cinta itu hilang maka hilang pulalah kebahagiaan yang selalu memberikan mereka semangat itu.
Setahun berlalu tak ada yang berubah dengan cerita cinta syafira dan lillah, mereka masih mencintai orang yang sama namun sayangnya kak deni dan pak ando masih bersama dengan wanita pilihannya. Entah apa yang Allah rahasiakan untuk kedua gadis itu, sampai saat ini Allah masih menyimpan misteri tentang cinta yang entah akan dilabuhkan dimana.
Aroma hari kemenangan telah tercium baunya, mentari senja yang menguning perlahan-lahan redup tergantikan sinar rembulan. Ada nuansa yang berbeda untuk lebaran kali ini, syafira lebih memilih mengurung diri di kamar dibandingkan bersenda gurau atau menikmati gemerlapan cahaya kembang api dan suara petasan yang membahana saat malam takbir. Dia teringat malam takbir tahun kemarin, dengan penuh keyakinan dirinya bersama lillah pernah mengutarakan niatnya untuk melewati malam takbir tahun ini bersama kak deni dan pak ando dihalaman rumah syafira sambil menyalakan kembang api, namun ternyata harapan itu harus mereka kubur dalam-dalam karena sampai tiba waktunya kini kak deni dan pak ando tidak ada disamping mereka.
“dan orang-orang yang berkata “ ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenag hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi 9dalam surge) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya.”
Air matapun tak kuasa dibendung lagi, betapa hati syafira terenyuh dengan sabdaan Tuhan yang baru dibacanya, kini dia baru tersadar betapa dia sudah melupakan satu hal, yakni ‘kesabaran’. Tak sepantasnya dia merasa kecewa jika saat ini tak adapak pos disampingnya, seharusnya dia mengert satu hal, Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya, jika samapai saat ini Allah belum mengabulkan doanya itu karena Allah syang kepadanya, Allah tak ingin dirinya berbuat dosa dari hanya sekedar “berpacaran”,  hal yang samapun dirasakan oleh lillah, betapa dia menyesal karena sudah berburuk sangka kepada Allah selam ini, diambil air wudhu oleh kedua gadis itu, wajah yang tadi terlinangkan air mata kini tergantikan oleh basahnya air wudhu yang suci, mereka bersimpuh dihadapan Tuhannya lewat shalat dan sujud mereka, mereka terus larut dalam doa dan tasbih ditengah gema takbir yang berkumandang dimalam itu, hingga akhirnya fajar menyapa mereka.
***
Mereka saling menatap sambil melempar senyum nakal dibibirnya, mereka berpelukan dan kembali tak kuasa menahan tangis, kali ini bukan tangis kepedihan yang teruai, melainkan tangis haru saat hari yang fitri itu datang.
“kau pasti tak henti-hentinya menagisi pak pos kan, sampai-sampai bola matamu membesar 2 kali lipat saking sembabya” goda Lillah sok tahu.
“sok ngejek lagi, matamu tuh yang membesar 2 kali lipat…!” balas syafira melihat mata lillah sama sembabnya.”
Sejenak mereka terdiam, ada kesunyian yang mencekam diantara mereka berdua.
“kini aku ikhlas Ra dengan takdirku, aku pasrah dengan apapun yang Tuhan berikan.”
“akupun begitu, jika memang ini jalannya maka aku akan laluinya dengan kepasrahan”
“aku yakin Tuhan itu sedang menjaga kita dari fitnah, aku akan bersabar menanti pujaan hatiku, jika dia memang tulung rusukku maka siapapun dia dan dimanapun dia berada aku yakin dia akan datang menjemputku dan membawaku kedalam mahligai kebahagiaan.”
“semua akan indah pada saatnya,  WALLAHI….!aku akan bersabar menanti takdir itu…J!

Surat terakhir


Wajah safa masih terlihat murung saat dia keluar dari kelasnya, seharusnya saat itu dia bahagia karena sahabatnya eza kini telah bereinkarnasi menjadi pria yang membanggakan, betapa tidak dulu eza hanyalah cowok badung dan pemalas, tapi sekarang dia menjadi perwakilan kampusnya untuk jadi motivator mahasiswa-siswa lain agar mau hidup maju. Ternyata usaha safa menebar semangat pada eza tidak sia-sia, bahkan sekarang malah eza yang berbalik menjadi motivator untuk safa dan teman-teman kampusnya. Tapi apa boleh buat, safa yang sekarang bukanlah safa yang 6 bulan lalu, kini dia telah berubah menjadi gadis pembisu yang tak pernah lagi peduli pada sekelilingnya, bahkan pada hidupnya sendiri.
Dipojok taman kampus safa masih terlihat diam membisu, sudut matanya menyiratkan ada luka mendalam dihatinya, angin kencang mulai menyapu  daun-daun kering dan meniupnya kearah  wajahnya yang sedang hanya duduk termenung.debu-debu betertabangan mengikuti arah angin melaju, tanpa menghiraukan semua itu safa terus diam dan hanya diam.
“aku sedih melihatmu terus seperti ini fa.”ujar  Eza menghampiri safa lalu ikut duduk disamping safa. Ikatan diantara mereka memang cukup erat, walau baru hanya berteman 2 tahun tapi sudah banyak peristiwa yang mereka lalui bersama, yach…dulu mereka dipertemukan saat sebuah seleksi masuk perguruan tinggi negri di yogya, keduanaya mengikuti tes snamptn di ugm dan tanpa terduga pertemuan itu menjadi awal persahabatan mereka yang unik itu. Walau safa tidak jadi kuliah di ugm tapi takdir tetap mempersatukan mereka, tiap bulan safa berkunjung ke yogya, bue safa memang tinggal disana selain itu kekasih hatinyapun tinggal di yogya jadi banyak alasan bagi safa untuk terus berkunjung ke kota pelajar itu.
Saat pertemuan pertama mereka di kampus ugm itu safa dan eza terus dipertemukan, eza adalah temannya adtya, cowok yang selama ini menjadi pengisi ruang dihati safa, awalnya safa dan eza bagaikan tikus dan kucing yang selalu bertengkar saat bertemu, maklum dulu eza adalah bad boy yang menjengkelkan, sikapnya yang sombong dan semena-mena ditambah karakter safa yang keras membuat mereka selalu bertengkar. Tapi disisi lain keduanya selalu ada disaat mereka saling membutuhkan, eza selalu menjadi orang terdepan yang akan menolong safa kalau safa berada dalam kesulitan, begitupun dengan safa, safa menjadi orang pertama berada disamping eza saat sahabatnya itu mendapatkan masalah. Bahkan disaat teman-teman eza yang lebih dulu mengenal eza menjauhi eza pun safa tetap ada untuk eza, saat ayah eza masuk penjara karena tuduhan korupsi dan penyuapan, safalah yang selalu memberikan semangat pada eza dan membangkitkannya dari keterpurukkan. Yach…pertemanan mereka memang unik, disatu sisi mereka bagaikan tikus dan kucing yang akan selalu bertengkar saat mereka bertemu, tapi disis lain mereka adalah gambaran dari sebuah persahabatan, persahabatan yang sejati.
Dulu memang safa adalah gadis periang yang penuh dengan gairah hidup, semangatnya tak pernah luntur walau kegagalan demi kegagalan menghampirinya, namun safa tetapalh seorang manusia biasa, hantaman badai yang terus menerpa hidupnya telah menghancurka kokohnya pertahanan diri safa, kejadian tak mengenakkan terus mendera safa dalam waktu yang berdekatan, dari mulai ditinggalkan oleh ibunya, harus kehilangan mimpinya menjadi psikolaog, dipaksa masuk perguruan tinggi yang dia tak suka dan terakhir dia harus kehilangan adtya, cowok yang sangat dia cintai yang sudah menemani hari-harinya selama 2 tahun. Kepergian aditya memang tak bisa diterima oleh safa terlebih adtya meninggalkan safa hanya untuk gadis lain. “kamu adalah wanita yang kuat fa, tanpamu kamu masih bisa bertahan. Tapi tidah dengan dila, dia sangat membutuhkan aku. Dia sedang sakit.” Itulah yang dikatakan aditya saat dia mengakhiri hubungannya dengan safa. Safa sangat terpukul dengan sederet kejadian getir yang menimpa hidupnya, dia sudah merasa sudah tak punya apapun lagii di dunia ini yang pantas dia perjuangkan. Dunia sudah merebut hidupnya, sempat terfikir dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya, namun rasa takut kepada Allah masih dimiliki safa, dia tahu Tuhan sangat membenci orang-orang yang mendzolomi dirinya sendiri, untuk itulah dia bertahan. Menjalani sisa waktu yang masih Tuhan berikan kepadanya walau harus dengan kehampaan dan kesemuan. Dia tidak pernah ingin melakukan apapun lagi kecuali hidup dibawah diktean ayahnya, safa tak pernah lagi mengejar kebahagiaannya karena baginya kebahagiaan itu sudah punah saat satu persatu orang yang dikasihinya pergi meninggalkan dirinya.
“ingat fa, dulu kamu pernah bilang bahwa jadilah ombak yang dengan gagahnya mampu menerjang batu karang, jadilah api yang nyalanya mampu membakar jiwa yang mati, jadilah mentari yang dengan sabarnya menjalankan titah dari Tuhannya mene….”, belum sempat eza berbicara safa sudah memotong, dengan senyumnya yang hampa dia menyanggah semua ucapan ezaa. “tapi itu hanya sebuah ungkapan pemanis hidup, yang terangkai dalam sebuah bait puisi atau kata-kata mutiara demi membuat orang bahagia atau untuk hanya sekedar mengagumi apa yang kita ucapkan. Tapi sebenarnya apakah kita mampu? Tidak za, aku tak kuasa melakukannya.” Yach….dulu memang safa adalah seorang penulis yang cukup bebakat, kepandaiannya merangkai kata dan kecerdikannya meramu bahasa membuat karya-karya yang ditulisnya menjadi lebih hidup bahkan banyak orang yang terinspirasi oleh tulisannya termasuk eza. Namun naas, justru disaat banyak orang yang terinspirasi oleh dirinya dia justru terpuruk dan tak mampu bertahan, mungkin ini juga yang membuat safa kini berhenti menulis. Safa merasa dirinya hanyalah sebagai pecundang yang hanya dimainkan oleh parody kehidupan.
“bangkitlah fa, apakah kamu lupa bahwa disini masih ada aku yang akan selalu menyayangi dan mendukungmu? Apakah kamu sudah melupakan semua persahabatan kita?” sambil memegang kedua tangan safa, setulus hati eza memohon dan berharap dia dapat meluluhkan hati sahabatnya itu. Namun gadis manis itu lagi-lagi tak brgrming. “ trimaksih za, aku percaya akan semua ketulusanmu, dan semua tentang persahabatan kita tidak akan pernah aku lupakan walau hanya sedetikpun. Akan kusimpan semuanya dalam hati, ku kemas dengan rapih dan mematrinya agar aku tahu kalau dulu aku pernah bahagia. Pergilah za, persahabatan kita biarlah menjadi kenangan dari sebagian lain kenangan yang pernah kita miliki.’ Suara safa terdenagar jelas ditelinga eza bagai petir yang menyambar hatinya. Eza tak percaya sahabatnya akan berkata seperti itu.
“baik…, kalau itu yang kamu inginkan, ternyata dimatamu persahabatan kita tak ubahnya seperti boneka yang bisa dikemas begitu saja dan dipajang di sela-sela hatimu hanya untuk hiasan semata” lirih eza menahan kekecewaannya. “ tapi sebelumnya aku ingin kau tahu sesuatu kalau..’
‘cukup za, jangan lanjutkan kata-katamu lagi! Kamu tahu, semua kata-katamu hanya akan membuat hatiku semakin sakit lagi!lalu ditinggalkannya eza dengan penuh tak berperasaannya. Ezapun hanya diam mematung, matanya yang tajam, yang selalu memancarkan kekuatannya kini tak mampu menahan lagi air mata yang hendak keluar melihat sahabat yang disayangi pergi begitu saja tanpa sempat dia mengatakan sesuatu, sesuatu yang teramat penting, sesuatu yang akan menjadi jembatan akan kemana persahabatan mereka dibawa.
“aku telah kehilangan sahabatku, haruskah dengan cara seperti ini?” hati kecil eza menagis.
***
Dalam lenguhan nafas yang tersengal-senagal, air matanya terus bercucuran deras tak terbedung. Batinnya teiris-iris pedang guratan takdir yang tanpa ampun mencabik-cabik dirinya. Dengan langkah tak bersemangat safa menapaki satu persatu tangga kampusnya, ini memang berat namun harus tetap dia jalani, ini semua hanya demi membuat ayahnya bangga, safa tak peduli lagi kalau harus menghabiskan separuh dari waktu hidupnya untuk duduk dibangku kuliah dan mendengarkan semua doktrin dari para dosen yang selalu menyuapinya dengan materi-materi yang tak pernah dia sukai dan bahkan dia tak mengerti. Masuk fakultas hukum memang jauh dari keinginannya selama ini, baginya hukum itu bagai pedang yang setiap saat mampu menusuknya kapanpun dan dimanapun, itulah yang terjadi pada dirinya saat ini, ayahnya memang tak pernah mengerti dengan apa yang diinginkan oleh safa, bagi ayah safa menjadikannya seorang pengacara yang hebat itu adalah yang terbaik untukknya tanpa dia menyadari bahwa potenssi dan bakat yang dimiliki safa sangatlah jauh dari lingkungan hukum.
“safa tunggu” terdengar suara salah seorang teman safa menghentikan langkahnya. “ni, ada surat untuk kamu!” yunia menyodarkan amplom surat berwarna merah muda pada safa. “seorang cowok yang menjadi motivator kita kemarin menitipkannya padaku, dia ganteng yach….?!” Goda yunia sambil pergi. Digenggamnya surat kecil itu oleh safa,”pasti eza” pikirnya dalam hati. tak ada sedikitpun keinginannya untuk membaca isi surat itu, bahkan sempat terfikir dibenak safa untuk langsung membuangnya, akh…tapi tidak! Bagaimanapun surat ini dari eza, sahabat yang selalu setia menemaninya selama 2 tahun terakhir ini. Safa hanya menyimpannya melipat surat tesebut dan memasukkannya ke dalam tas.
Hari terus berganti minggu, minggu talah berganti bulan, sempat terlintas dalam benak safa tuk membaca surat dari eza. Dibukanaya kotak kecil tempat dia menyimpan surat itu, lalu kemudian dia tutup lagi. “buat apa membacanya, itu hanya akan mengingatkanku pada luka ku saja” gumam safa dalam hati. Tapi rasa penasaran terus bergelayut dalam hatinya, sejak terakhir mereka bertemu di kampus safa tepatnya satu tahun yang lalu dia memang tidak pernah tahu lagi kabar eza, bahkan seuntai kata yang selalu eza kirim denagn penuh derma ketulusan walau disaat sikap safa sudah berubahpun kini sudah tak pernah lagi dia dapatkan dlam inboxnya, dari twiter, facebook maupun blog. “mungkin eza sudah merupakan diriku” pikiran picik itu terlintas dalam otak safa. Tak ingin menduga- duga lagi akhirnya safa buka kembali kotak itu, dibacanya surat pemberian dari eza, betapa tercengangnya dia saat membaca surat dari sahabatnya itu.
“safa, aku tahu selembar surat dariku ini tidaklah akan mampu menghapus perih luka di hatimu, tapi tetesan tinta ini tetap harus aku goreskan agar kamu tahu kalau aku akan selalu setia menanti senyummu kembali mengembang di bibir inadahmu. Ayahku sudah mendapatkan remisi, dia kini sudah dibebaskan karena dia hanya terbukti menerima uang suao saja. Kami sekeluarga memutuskan untuk memulai hidup baru dari awal, untuk itu aku dan keluargaku akan pergi dan menetap di raja ampat. Entah untuk 1 tahun, 10 tahun bahkan mungkin untuk selamanya. Tapi ketahuilah dimanapun aku berada saat ini aku akan tetap berdoa agar Tuhan mau mengembalikan safa sahabatku seperti safa yang dulu pernah aku kenal. Percayalah kalau hidup itu bagai roda yang selalu berputar. Kadang kita merasa bahagia, kadang pula merasa tersiksa, itu hanya bagian dari romantika kehidupan.
Jika kau kini berada dalam himpitan masalah yang seolah takakan pernah berujung, maka janganlah pernah berfikir untuk diam. Terus berlari atau berjalan bahkan walau hanya dengan sekedar merangkak teruslah kamu susuri jalan-jalan terjal mendaki yang harus kamu lewati karena diujung jalan sana pasti aka nada seseorang yang sudah bersiap mengulurkan tangannya untukmu. Dan yang harus selalu kau ingat dibelakangmu akan selalu ada aku yang siap mendorongmu dan menangkapmu saat kau jatuh.
Mungkin bagimu tidak lebih dari sebuah ucapan manis, hanya sebuah puisi indah yang ditulis hanya untuk membuat orang merasa senanng atau kagum tanpa harus mempedulikan apakah kita yang mengatakannya bisa melakukan itu semua atau tidak. Tapi aku yakin kau lebih tahu bahwa aku tidaklah cukup pintar untuk merangkai kata-kata ini menjadi butir mutiara, ini semua murni dari lubuk hatiku yang terdalam, yang tulus denagn tulus meminta senyummu yang telah kau renggut sendiri.
Yakinlah, Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita, bukankah itu yang selalu kau katakana padaku? Bangkitlahsafa, pelangi indah sudah menantimu diujung sana”.
Jatuhlah semua linangan air mata bersamaan dengan dijatuhkannya surat kecil it u, terlintas kenangan tentang kebersamaannya dengan eza dahulu, dimana kedua jari kelingking mereka telah mengikat suatu janji untuk selalu bersama, dimana kenakalan eza selalu membuat hari-hari safa menjadi penuh warna, semua itu terangkum kembali dalam benak safa. Penyesalan tak bisa dihindarkan lagi dari raut wajah gadis manis itu, seharusnya dulu dia mau sebentar saja mendengarkan kata-kata eza terakhir, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin dulu dia akan sempat mengucapkan kata selamat tinggal atau sekedar berkata “aku pasti akan merindukanmu”.
“sahabat macam apa aku ini? Aku memang terlalu egois, hanya memikrkan perasaanku saja, maafkan aku eza aku telah menyia-nyiakan ketulusan persahabatanmu, aku janji aku akan bangkit dan kembali menjadi safa yang dulu. Cepatlah kembali eza!”. Lirih safa semabri mengusap air mata yang telah membasahi pipinya itu.


Rencana pendidikkan dan masa depan


-          Rencana Pendidikan
Saat ini saya sedang menempuh pendidikkan S1 di IAID Ciamis. Target saya, saya harus bisa menyelesaikan kuliah ini dalam jangka waktu 4 tahun atau kalau bisa kurang dari 4 tahun tentunya juga dengan nilai kumloud agar saya tidak banyak mendapatkan kesuitan saat saya hendak meneruskan kuliah lagi atau untuk mencari pekerjaan.
Setelah saya lulus dari IAID saya berkeinginan untuk melanjutkan kuliah S2 di UPI Bandung atau universitas negeri yang ada di Malang. Saya ingin mengambil jurusan Bahasa Indonesia SD. Selain saya senang dengan mata pelajaran ini, jurusan ini juga dirasa relevan dengan jurusan yang saya ambil saat ini yakni PGMI.
-          Rencana Masa Depan.
Menjadi PNS mungkin hal-hal yang paling diidamkan oleh seorang calon guru termasuk saya, tapi melihat peluang yang tipis untuk menjadi seorang PNS, saya tidak ingin terlalu memperioritaskan diri saya untuk bisa jadi PNS.
Jika saya sudah luluh kuliah S1 saya ingin hijrah ke Malang, kota yang sudah menjadi rumah ke-2 bagi saya. Dengan mengandalakan latar belakang pendidikan yang saya punya, saya ingin melamar ke yayasan-yayasan pendidikkan yang berbasis islam juga tentunya yang sudah mempunyai integritas yang baik pula. Saya juga ingin menjadi guru privat mengaji disana, karena yang saya lihat guru mengaji di Malang sangatlah kurang, ini tentunya bisa menjadi kesempatan besar bagi saya. Saya juga ingin menjadi penulis yang hebat, saya ingin tulisan-tulisan saya dapat menginspirasi dan memotivasi banyak orang. IngsyaAllah dengan seizin dari Allah saya ingin terus melanjutkan pendidikkan saya samapai semampu saya, bahkan kalau bisa sampai saya mendapatkan gelar Profesor. Saya ingin menjadi guru besar di Universitas Brawijaya, saya juga ingin mendirikan sebuah lembaga privat yang dapat mempasilitasi anak-anak yang ingin menambah ilmunya selain di sekolah formal yang mereka tempu samapai saya bisa meraih mimpi terbesar saya saya yakni menjadi seorang “ibu mentri” dalam hal ini tentunya menjadi mentri pendidikkan.