Jumat, 09 November 2012

Surat terakhir


Wajah safa masih terlihat murung saat dia keluar dari kelasnya, seharusnya saat itu dia bahagia karena sahabatnya eza kini telah bereinkarnasi menjadi pria yang membanggakan, betapa tidak dulu eza hanyalah cowok badung dan pemalas, tapi sekarang dia menjadi perwakilan kampusnya untuk jadi motivator mahasiswa-siswa lain agar mau hidup maju. Ternyata usaha safa menebar semangat pada eza tidak sia-sia, bahkan sekarang malah eza yang berbalik menjadi motivator untuk safa dan teman-teman kampusnya. Tapi apa boleh buat, safa yang sekarang bukanlah safa yang 6 bulan lalu, kini dia telah berubah menjadi gadis pembisu yang tak pernah lagi peduli pada sekelilingnya, bahkan pada hidupnya sendiri.
Dipojok taman kampus safa masih terlihat diam membisu, sudut matanya menyiratkan ada luka mendalam dihatinya, angin kencang mulai menyapu  daun-daun kering dan meniupnya kearah  wajahnya yang sedang hanya duduk termenung.debu-debu betertabangan mengikuti arah angin melaju, tanpa menghiraukan semua itu safa terus diam dan hanya diam.
“aku sedih melihatmu terus seperti ini fa.”ujar  Eza menghampiri safa lalu ikut duduk disamping safa. Ikatan diantara mereka memang cukup erat, walau baru hanya berteman 2 tahun tapi sudah banyak peristiwa yang mereka lalui bersama, yach…dulu mereka dipertemukan saat sebuah seleksi masuk perguruan tinggi negri di yogya, keduanaya mengikuti tes snamptn di ugm dan tanpa terduga pertemuan itu menjadi awal persahabatan mereka yang unik itu. Walau safa tidak jadi kuliah di ugm tapi takdir tetap mempersatukan mereka, tiap bulan safa berkunjung ke yogya, bue safa memang tinggal disana selain itu kekasih hatinyapun tinggal di yogya jadi banyak alasan bagi safa untuk terus berkunjung ke kota pelajar itu.
Saat pertemuan pertama mereka di kampus ugm itu safa dan eza terus dipertemukan, eza adalah temannya adtya, cowok yang selama ini menjadi pengisi ruang dihati safa, awalnya safa dan eza bagaikan tikus dan kucing yang selalu bertengkar saat bertemu, maklum dulu eza adalah bad boy yang menjengkelkan, sikapnya yang sombong dan semena-mena ditambah karakter safa yang keras membuat mereka selalu bertengkar. Tapi disisi lain keduanya selalu ada disaat mereka saling membutuhkan, eza selalu menjadi orang terdepan yang akan menolong safa kalau safa berada dalam kesulitan, begitupun dengan safa, safa menjadi orang pertama berada disamping eza saat sahabatnya itu mendapatkan masalah. Bahkan disaat teman-teman eza yang lebih dulu mengenal eza menjauhi eza pun safa tetap ada untuk eza, saat ayah eza masuk penjara karena tuduhan korupsi dan penyuapan, safalah yang selalu memberikan semangat pada eza dan membangkitkannya dari keterpurukkan. Yach…pertemanan mereka memang unik, disatu sisi mereka bagaikan tikus dan kucing yang akan selalu bertengkar saat mereka bertemu, tapi disis lain mereka adalah gambaran dari sebuah persahabatan, persahabatan yang sejati.
Dulu memang safa adalah gadis periang yang penuh dengan gairah hidup, semangatnya tak pernah luntur walau kegagalan demi kegagalan menghampirinya, namun safa tetapalh seorang manusia biasa, hantaman badai yang terus menerpa hidupnya telah menghancurka kokohnya pertahanan diri safa, kejadian tak mengenakkan terus mendera safa dalam waktu yang berdekatan, dari mulai ditinggalkan oleh ibunya, harus kehilangan mimpinya menjadi psikolaog, dipaksa masuk perguruan tinggi yang dia tak suka dan terakhir dia harus kehilangan adtya, cowok yang sangat dia cintai yang sudah menemani hari-harinya selama 2 tahun. Kepergian aditya memang tak bisa diterima oleh safa terlebih adtya meninggalkan safa hanya untuk gadis lain. “kamu adalah wanita yang kuat fa, tanpamu kamu masih bisa bertahan. Tapi tidah dengan dila, dia sangat membutuhkan aku. Dia sedang sakit.” Itulah yang dikatakan aditya saat dia mengakhiri hubungannya dengan safa. Safa sangat terpukul dengan sederet kejadian getir yang menimpa hidupnya, dia sudah merasa sudah tak punya apapun lagii di dunia ini yang pantas dia perjuangkan. Dunia sudah merebut hidupnya, sempat terfikir dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya, namun rasa takut kepada Allah masih dimiliki safa, dia tahu Tuhan sangat membenci orang-orang yang mendzolomi dirinya sendiri, untuk itulah dia bertahan. Menjalani sisa waktu yang masih Tuhan berikan kepadanya walau harus dengan kehampaan dan kesemuan. Dia tidak pernah ingin melakukan apapun lagi kecuali hidup dibawah diktean ayahnya, safa tak pernah lagi mengejar kebahagiaannya karena baginya kebahagiaan itu sudah punah saat satu persatu orang yang dikasihinya pergi meninggalkan dirinya.
“ingat fa, dulu kamu pernah bilang bahwa jadilah ombak yang dengan gagahnya mampu menerjang batu karang, jadilah api yang nyalanya mampu membakar jiwa yang mati, jadilah mentari yang dengan sabarnya menjalankan titah dari Tuhannya mene….”, belum sempat eza berbicara safa sudah memotong, dengan senyumnya yang hampa dia menyanggah semua ucapan ezaa. “tapi itu hanya sebuah ungkapan pemanis hidup, yang terangkai dalam sebuah bait puisi atau kata-kata mutiara demi membuat orang bahagia atau untuk hanya sekedar mengagumi apa yang kita ucapkan. Tapi sebenarnya apakah kita mampu? Tidak za, aku tak kuasa melakukannya.” Yach….dulu memang safa adalah seorang penulis yang cukup bebakat, kepandaiannya merangkai kata dan kecerdikannya meramu bahasa membuat karya-karya yang ditulisnya menjadi lebih hidup bahkan banyak orang yang terinspirasi oleh tulisannya termasuk eza. Namun naas, justru disaat banyak orang yang terinspirasi oleh dirinya dia justru terpuruk dan tak mampu bertahan, mungkin ini juga yang membuat safa kini berhenti menulis. Safa merasa dirinya hanyalah sebagai pecundang yang hanya dimainkan oleh parody kehidupan.
“bangkitlah fa, apakah kamu lupa bahwa disini masih ada aku yang akan selalu menyayangi dan mendukungmu? Apakah kamu sudah melupakan semua persahabatan kita?” sambil memegang kedua tangan safa, setulus hati eza memohon dan berharap dia dapat meluluhkan hati sahabatnya itu. Namun gadis manis itu lagi-lagi tak brgrming. “ trimaksih za, aku percaya akan semua ketulusanmu, dan semua tentang persahabatan kita tidak akan pernah aku lupakan walau hanya sedetikpun. Akan kusimpan semuanya dalam hati, ku kemas dengan rapih dan mematrinya agar aku tahu kalau dulu aku pernah bahagia. Pergilah za, persahabatan kita biarlah menjadi kenangan dari sebagian lain kenangan yang pernah kita miliki.’ Suara safa terdenagar jelas ditelinga eza bagai petir yang menyambar hatinya. Eza tak percaya sahabatnya akan berkata seperti itu.
“baik…, kalau itu yang kamu inginkan, ternyata dimatamu persahabatan kita tak ubahnya seperti boneka yang bisa dikemas begitu saja dan dipajang di sela-sela hatimu hanya untuk hiasan semata” lirih eza menahan kekecewaannya. “ tapi sebelumnya aku ingin kau tahu sesuatu kalau..’
‘cukup za, jangan lanjutkan kata-katamu lagi! Kamu tahu, semua kata-katamu hanya akan membuat hatiku semakin sakit lagi!lalu ditinggalkannya eza dengan penuh tak berperasaannya. Ezapun hanya diam mematung, matanya yang tajam, yang selalu memancarkan kekuatannya kini tak mampu menahan lagi air mata yang hendak keluar melihat sahabat yang disayangi pergi begitu saja tanpa sempat dia mengatakan sesuatu, sesuatu yang teramat penting, sesuatu yang akan menjadi jembatan akan kemana persahabatan mereka dibawa.
“aku telah kehilangan sahabatku, haruskah dengan cara seperti ini?” hati kecil eza menagis.
***
Dalam lenguhan nafas yang tersengal-senagal, air matanya terus bercucuran deras tak terbedung. Batinnya teiris-iris pedang guratan takdir yang tanpa ampun mencabik-cabik dirinya. Dengan langkah tak bersemangat safa menapaki satu persatu tangga kampusnya, ini memang berat namun harus tetap dia jalani, ini semua hanya demi membuat ayahnya bangga, safa tak peduli lagi kalau harus menghabiskan separuh dari waktu hidupnya untuk duduk dibangku kuliah dan mendengarkan semua doktrin dari para dosen yang selalu menyuapinya dengan materi-materi yang tak pernah dia sukai dan bahkan dia tak mengerti. Masuk fakultas hukum memang jauh dari keinginannya selama ini, baginya hukum itu bagai pedang yang setiap saat mampu menusuknya kapanpun dan dimanapun, itulah yang terjadi pada dirinya saat ini, ayahnya memang tak pernah mengerti dengan apa yang diinginkan oleh safa, bagi ayah safa menjadikannya seorang pengacara yang hebat itu adalah yang terbaik untukknya tanpa dia menyadari bahwa potenssi dan bakat yang dimiliki safa sangatlah jauh dari lingkungan hukum.
“safa tunggu” terdengar suara salah seorang teman safa menghentikan langkahnya. “ni, ada surat untuk kamu!” yunia menyodarkan amplom surat berwarna merah muda pada safa. “seorang cowok yang menjadi motivator kita kemarin menitipkannya padaku, dia ganteng yach….?!” Goda yunia sambil pergi. Digenggamnya surat kecil itu oleh safa,”pasti eza” pikirnya dalam hati. tak ada sedikitpun keinginannya untuk membaca isi surat itu, bahkan sempat terfikir dibenak safa untuk langsung membuangnya, akh…tapi tidak! Bagaimanapun surat ini dari eza, sahabat yang selalu setia menemaninya selama 2 tahun terakhir ini. Safa hanya menyimpannya melipat surat tesebut dan memasukkannya ke dalam tas.
Hari terus berganti minggu, minggu talah berganti bulan, sempat terlintas dalam benak safa tuk membaca surat dari eza. Dibukanaya kotak kecil tempat dia menyimpan surat itu, lalu kemudian dia tutup lagi. “buat apa membacanya, itu hanya akan mengingatkanku pada luka ku saja” gumam safa dalam hati. Tapi rasa penasaran terus bergelayut dalam hatinya, sejak terakhir mereka bertemu di kampus safa tepatnya satu tahun yang lalu dia memang tidak pernah tahu lagi kabar eza, bahkan seuntai kata yang selalu eza kirim denagn penuh derma ketulusan walau disaat sikap safa sudah berubahpun kini sudah tak pernah lagi dia dapatkan dlam inboxnya, dari twiter, facebook maupun blog. “mungkin eza sudah merupakan diriku” pikiran picik itu terlintas dalam otak safa. Tak ingin menduga- duga lagi akhirnya safa buka kembali kotak itu, dibacanya surat pemberian dari eza, betapa tercengangnya dia saat membaca surat dari sahabatnya itu.
“safa, aku tahu selembar surat dariku ini tidaklah akan mampu menghapus perih luka di hatimu, tapi tetesan tinta ini tetap harus aku goreskan agar kamu tahu kalau aku akan selalu setia menanti senyummu kembali mengembang di bibir inadahmu. Ayahku sudah mendapatkan remisi, dia kini sudah dibebaskan karena dia hanya terbukti menerima uang suao saja. Kami sekeluarga memutuskan untuk memulai hidup baru dari awal, untuk itu aku dan keluargaku akan pergi dan menetap di raja ampat. Entah untuk 1 tahun, 10 tahun bahkan mungkin untuk selamanya. Tapi ketahuilah dimanapun aku berada saat ini aku akan tetap berdoa agar Tuhan mau mengembalikan safa sahabatku seperti safa yang dulu pernah aku kenal. Percayalah kalau hidup itu bagai roda yang selalu berputar. Kadang kita merasa bahagia, kadang pula merasa tersiksa, itu hanya bagian dari romantika kehidupan.
Jika kau kini berada dalam himpitan masalah yang seolah takakan pernah berujung, maka janganlah pernah berfikir untuk diam. Terus berlari atau berjalan bahkan walau hanya dengan sekedar merangkak teruslah kamu susuri jalan-jalan terjal mendaki yang harus kamu lewati karena diujung jalan sana pasti aka nada seseorang yang sudah bersiap mengulurkan tangannya untukmu. Dan yang harus selalu kau ingat dibelakangmu akan selalu ada aku yang siap mendorongmu dan menangkapmu saat kau jatuh.
Mungkin bagimu tidak lebih dari sebuah ucapan manis, hanya sebuah puisi indah yang ditulis hanya untuk membuat orang merasa senanng atau kagum tanpa harus mempedulikan apakah kita yang mengatakannya bisa melakukan itu semua atau tidak. Tapi aku yakin kau lebih tahu bahwa aku tidaklah cukup pintar untuk merangkai kata-kata ini menjadi butir mutiara, ini semua murni dari lubuk hatiku yang terdalam, yang tulus denagn tulus meminta senyummu yang telah kau renggut sendiri.
Yakinlah, Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita, bukankah itu yang selalu kau katakana padaku? Bangkitlahsafa, pelangi indah sudah menantimu diujung sana”.
Jatuhlah semua linangan air mata bersamaan dengan dijatuhkannya surat kecil it u, terlintas kenangan tentang kebersamaannya dengan eza dahulu, dimana kedua jari kelingking mereka telah mengikat suatu janji untuk selalu bersama, dimana kenakalan eza selalu membuat hari-hari safa menjadi penuh warna, semua itu terangkum kembali dalam benak safa. Penyesalan tak bisa dihindarkan lagi dari raut wajah gadis manis itu, seharusnya dulu dia mau sebentar saja mendengarkan kata-kata eza terakhir, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin dulu dia akan sempat mengucapkan kata selamat tinggal atau sekedar berkata “aku pasti akan merindukanmu”.
“sahabat macam apa aku ini? Aku memang terlalu egois, hanya memikrkan perasaanku saja, maafkan aku eza aku telah menyia-nyiakan ketulusan persahabatanmu, aku janji aku akan bangkit dan kembali menjadi safa yang dulu. Cepatlah kembali eza!”. Lirih safa semabri mengusap air mata yang telah membasahi pipinya itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar