Wajah safa
masih terlihat murung saat dia keluar dari kelasnya, seharusnya saat itu dia
bahagia karena sahabatnya eza kini telah bereinkarnasi menjadi pria yang
membanggakan, betapa tidak dulu eza hanyalah cowok badung dan pemalas, tapi
sekarang dia menjadi perwakilan kampusnya untuk jadi motivator mahasiswa-siswa
lain agar mau hidup maju. Ternyata usaha safa menebar semangat pada eza tidak
sia-sia, bahkan sekarang malah eza yang berbalik menjadi motivator untuk safa
dan teman-teman kampusnya. Tapi apa boleh buat, safa yang sekarang bukanlah
safa yang 6 bulan lalu, kini dia telah berubah menjadi gadis pembisu yang tak
pernah lagi peduli pada sekelilingnya, bahkan pada hidupnya sendiri.
Dipojok
taman kampus safa masih terlihat diam membisu, sudut matanya menyiratkan ada
luka mendalam dihatinya, angin kencang mulai menyapu daun-daun kering dan meniupnya kearah wajahnya yang sedang hanya duduk
termenung.debu-debu betertabangan mengikuti arah angin melaju, tanpa
menghiraukan semua itu safa terus diam dan hanya diam.
“aku sedih
melihatmu terus seperti ini fa.”ujar Eza
menghampiri safa lalu ikut duduk disamping safa. Ikatan diantara mereka memang
cukup erat, walau baru hanya berteman 2 tahun tapi sudah banyak peristiwa yang
mereka lalui bersama, yach…dulu mereka dipertemukan saat sebuah seleksi masuk
perguruan tinggi negri di yogya, keduanaya mengikuti tes snamptn di ugm dan
tanpa terduga pertemuan itu menjadi awal persahabatan mereka yang unik itu.
Walau safa tidak jadi kuliah di ugm tapi takdir tetap mempersatukan mereka,
tiap bulan safa berkunjung ke yogya, bue safa memang tinggal disana selain itu
kekasih hatinyapun tinggal di yogya jadi banyak alasan bagi safa untuk terus
berkunjung ke kota pelajar itu.
Saat
pertemuan pertama mereka di kampus ugm itu safa dan eza terus dipertemukan, eza
adalah temannya adtya, cowok yang selama ini menjadi pengisi ruang dihati safa,
awalnya safa dan eza bagaikan tikus dan kucing yang selalu bertengkar saat
bertemu, maklum dulu eza adalah bad boy yang menjengkelkan, sikapnya yang
sombong dan semena-mena ditambah karakter safa yang keras membuat mereka selalu
bertengkar. Tapi disisi lain keduanya selalu ada disaat mereka saling
membutuhkan, eza selalu menjadi orang terdepan yang akan menolong safa kalau
safa berada dalam kesulitan, begitupun dengan safa, safa menjadi orang pertama
berada disamping eza saat sahabatnya itu mendapatkan masalah. Bahkan disaat
teman-teman eza yang lebih dulu mengenal eza menjauhi eza pun safa tetap ada
untuk eza, saat ayah eza masuk penjara karena tuduhan korupsi dan penyuapan,
safalah yang selalu memberikan semangat pada eza dan membangkitkannya dari
keterpurukkan. Yach…pertemanan mereka memang unik, disatu sisi mereka bagaikan
tikus dan kucing yang akan selalu bertengkar saat mereka bertemu, tapi disis lain
mereka adalah gambaran dari sebuah persahabatan, persahabatan yang sejati.
Dulu memang
safa adalah gadis periang yang penuh dengan gairah hidup, semangatnya tak
pernah luntur walau kegagalan demi kegagalan menghampirinya, namun safa
tetapalh seorang manusia biasa, hantaman badai yang terus menerpa hidupnya
telah menghancurka kokohnya pertahanan diri safa, kejadian tak mengenakkan
terus mendera safa dalam waktu yang berdekatan, dari mulai ditinggalkan oleh
ibunya, harus kehilangan mimpinya menjadi psikolaog, dipaksa masuk perguruan
tinggi yang dia tak suka dan terakhir dia harus kehilangan adtya, cowok yang
sangat dia cintai yang sudah menemani hari-harinya selama 2 tahun. Kepergian
aditya memang tak bisa diterima oleh safa terlebih adtya meninggalkan safa
hanya untuk gadis lain. “kamu adalah wanita yang kuat fa, tanpamu kamu masih
bisa bertahan. Tapi tidah dengan dila, dia sangat membutuhkan aku. Dia sedang
sakit.” Itulah yang dikatakan aditya saat dia mengakhiri hubungannya dengan
safa. Safa sangat terpukul dengan sederet kejadian getir yang menimpa hidupnya,
dia sudah merasa sudah tak punya apapun lagii di dunia ini yang pantas dia
perjuangkan. Dunia sudah merebut hidupnya, sempat terfikir dalam benaknya untuk
mengakhiri hidupnya, namun rasa takut kepada Allah masih dimiliki safa, dia
tahu Tuhan sangat membenci orang-orang yang mendzolomi dirinya sendiri, untuk
itulah dia bertahan. Menjalani sisa waktu yang masih Tuhan berikan kepadanya
walau harus dengan kehampaan dan kesemuan. Dia tidak pernah ingin melakukan
apapun lagi kecuali hidup dibawah diktean ayahnya, safa tak pernah lagi
mengejar kebahagiaannya karena baginya kebahagiaan itu sudah punah saat satu
persatu orang yang dikasihinya pergi meninggalkan dirinya.
“ingat fa,
dulu kamu pernah bilang bahwa jadilah ombak yang dengan gagahnya mampu
menerjang batu karang, jadilah api yang nyalanya mampu membakar jiwa yang mati,
jadilah mentari yang dengan sabarnya menjalankan titah dari Tuhannya mene….”,
belum sempat eza berbicara safa sudah memotong, dengan senyumnya yang hampa dia
menyanggah semua ucapan ezaa. “tapi itu hanya sebuah ungkapan pemanis hidup,
yang terangkai dalam sebuah bait puisi atau kata-kata mutiara demi membuat
orang bahagia atau untuk hanya sekedar mengagumi apa yang kita ucapkan. Tapi sebenarnya
apakah kita mampu? Tidak za, aku tak kuasa melakukannya.” Yach….dulu memang
safa adalah seorang penulis yang cukup bebakat, kepandaiannya merangkai kata
dan kecerdikannya meramu bahasa membuat karya-karya yang ditulisnya menjadi
lebih hidup bahkan banyak orang yang terinspirasi oleh tulisannya termasuk eza.
Namun naas, justru disaat banyak orang yang terinspirasi oleh dirinya dia
justru terpuruk dan tak mampu bertahan, mungkin ini juga yang membuat safa kini
berhenti menulis. Safa merasa dirinya hanyalah sebagai pecundang yang hanya
dimainkan oleh parody kehidupan.
“bangkitlah
fa, apakah kamu lupa bahwa disini masih ada aku yang akan selalu menyayangi dan
mendukungmu? Apakah kamu sudah melupakan semua persahabatan kita?” sambil
memegang kedua tangan safa, setulus hati eza memohon dan berharap dia dapat
meluluhkan hati sahabatnya itu. Namun gadis manis itu lagi-lagi tak brgrming. “
trimaksih za, aku percaya akan semua ketulusanmu, dan semua tentang
persahabatan kita tidak akan pernah aku lupakan walau hanya sedetikpun. Akan
kusimpan semuanya dalam hati, ku kemas dengan rapih dan mematrinya agar aku
tahu kalau dulu aku pernah bahagia. Pergilah za, persahabatan kita biarlah
menjadi kenangan dari sebagian lain kenangan yang pernah kita miliki.’ Suara
safa terdenagar jelas ditelinga eza bagai petir yang menyambar hatinya. Eza tak
percaya sahabatnya akan berkata seperti itu.
“baik…,
kalau itu yang kamu inginkan, ternyata dimatamu persahabatan kita tak ubahnya
seperti boneka yang bisa dikemas begitu saja dan dipajang di sela-sela hatimu
hanya untuk hiasan semata” lirih eza menahan kekecewaannya. “ tapi sebelumnya
aku ingin kau tahu sesuatu kalau..’
‘cukup za,
jangan lanjutkan kata-katamu lagi! Kamu tahu, semua kata-katamu hanya akan
membuat hatiku semakin sakit lagi!lalu ditinggalkannya eza dengan penuh tak
berperasaannya. Ezapun hanya diam mematung, matanya yang tajam, yang selalu
memancarkan kekuatannya kini tak mampu menahan lagi air mata yang hendak keluar
melihat sahabat yang disayangi pergi begitu saja tanpa sempat dia mengatakan
sesuatu, sesuatu yang teramat penting, sesuatu yang akan menjadi jembatan akan
kemana persahabatan mereka dibawa.
“aku telah
kehilangan sahabatku, haruskah dengan cara seperti ini?” hati kecil eza
menagis.
***
Dalam
lenguhan nafas yang tersengal-senagal, air matanya terus bercucuran deras tak
terbedung. Batinnya teiris-iris pedang guratan takdir yang tanpa ampun
mencabik-cabik dirinya. Dengan langkah tak bersemangat safa menapaki satu
persatu tangga kampusnya, ini memang berat namun harus tetap dia jalani, ini
semua hanya demi membuat ayahnya bangga, safa tak peduli lagi kalau harus
menghabiskan separuh dari waktu hidupnya untuk duduk dibangku kuliah dan
mendengarkan semua doktrin dari para dosen yang selalu menyuapinya dengan materi-materi
yang tak pernah dia sukai dan bahkan dia tak mengerti. Masuk fakultas hukum
memang jauh dari keinginannya selama ini, baginya hukum itu bagai pedang yang
setiap saat mampu menusuknya kapanpun dan dimanapun, itulah yang terjadi pada
dirinya saat ini, ayahnya memang tak pernah mengerti dengan apa yang diinginkan
oleh safa, bagi ayah safa menjadikannya seorang pengacara yang hebat itu adalah
yang terbaik untukknya tanpa dia menyadari bahwa potenssi dan bakat yang
dimiliki safa sangatlah jauh dari lingkungan hukum.
“safa
tunggu” terdengar suara salah seorang teman safa menghentikan langkahnya. “ni,
ada surat untuk kamu!” yunia menyodarkan amplom surat berwarna merah muda pada
safa. “seorang cowok yang menjadi motivator kita kemarin menitipkannya padaku,
dia ganteng yach….?!” Goda yunia sambil pergi. Digenggamnya surat kecil itu
oleh safa,”pasti eza” pikirnya dalam hati. tak ada sedikitpun keinginannya
untuk membaca isi surat itu, bahkan sempat terfikir dibenak safa untuk langsung
membuangnya, akh…tapi tidak! Bagaimanapun surat ini dari eza, sahabat yang
selalu setia menemaninya selama 2 tahun terakhir ini. Safa hanya menyimpannya
melipat surat tesebut dan memasukkannya ke dalam tas.
Hari terus
berganti minggu, minggu talah berganti bulan, sempat terlintas dalam benak safa
tuk membaca surat dari eza. Dibukanaya kotak kecil tempat dia menyimpan surat
itu, lalu kemudian dia tutup lagi. “buat apa membacanya, itu hanya akan
mengingatkanku pada luka ku saja” gumam safa dalam hati. Tapi rasa penasaran
terus bergelayut dalam hatinya, sejak terakhir mereka bertemu di kampus safa
tepatnya satu tahun yang lalu dia memang tidak pernah tahu lagi kabar eza,
bahkan seuntai kata yang selalu eza kirim denagn penuh derma ketulusan walau
disaat sikap safa sudah berubahpun kini sudah tak pernah lagi dia dapatkan dlam
inboxnya, dari twiter, facebook maupun blog. “mungkin eza sudah merupakan
diriku” pikiran picik itu terlintas dalam otak safa. Tak ingin menduga- duga
lagi akhirnya safa buka kembali kotak itu, dibacanya surat pemberian dari eza,
betapa tercengangnya dia saat membaca surat dari sahabatnya itu.
“safa, aku
tahu selembar surat dariku ini tidaklah akan mampu menghapus perih luka di
hatimu, tapi tetesan tinta ini tetap harus aku goreskan agar kamu tahu kalau
aku akan selalu setia menanti senyummu kembali mengembang di bibir inadahmu.
Ayahku sudah mendapatkan remisi, dia kini sudah dibebaskan karena dia hanya
terbukti menerima uang suao saja. Kami sekeluarga memutuskan untuk memulai
hidup baru dari awal, untuk itu aku dan keluargaku akan pergi dan menetap di
raja ampat. Entah untuk 1 tahun, 10 tahun bahkan mungkin untuk selamanya. Tapi
ketahuilah dimanapun aku berada saat ini aku akan tetap berdoa agar Tuhan mau
mengembalikan safa sahabatku seperti safa yang dulu pernah aku kenal.
Percayalah kalau hidup itu bagai roda yang selalu berputar. Kadang kita merasa
bahagia, kadang pula merasa tersiksa, itu hanya bagian dari romantika
kehidupan.
Jika kau
kini berada dalam himpitan masalah yang seolah takakan pernah berujung, maka janganlah
pernah berfikir untuk diam. Terus berlari atau berjalan bahkan walau hanya
dengan sekedar merangkak teruslah kamu susuri jalan-jalan terjal mendaki yang
harus kamu lewati karena diujung jalan sana pasti aka nada seseorang yang sudah
bersiap mengulurkan tangannya untukmu. Dan yang harus selalu kau ingat
dibelakangmu akan selalu ada aku yang siap mendorongmu dan menangkapmu saat kau
jatuh.
Mungkin
bagimu tidak lebih dari sebuah ucapan manis, hanya sebuah puisi indah yang
ditulis hanya untuk membuat orang merasa senanng atau kagum tanpa harus
mempedulikan apakah kita yang mengatakannya bisa melakukan itu semua atau
tidak. Tapi aku yakin kau lebih tahu bahwa aku tidaklah cukup pintar untuk
merangkai kata-kata ini menjadi butir mutiara, ini semua murni dari lubuk
hatiku yang terdalam, yang tulus denagn tulus meminta senyummu yang telah kau
renggut sendiri.
Yakinlah,
Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita, bukankah itu yang selalu kau
katakana padaku? Bangkitlahsafa, pelangi indah sudah menantimu diujung sana”.
Jatuhlah
semua linangan air mata bersamaan dengan dijatuhkannya surat kecil it u,
terlintas kenangan tentang kebersamaannya dengan eza dahulu, dimana kedua jari
kelingking mereka telah mengikat suatu janji untuk selalu bersama, dimana
kenakalan eza selalu membuat hari-hari safa menjadi penuh warna, semua itu
terangkum kembali dalam benak safa. Penyesalan tak bisa dihindarkan lagi dari
raut wajah gadis manis itu, seharusnya dulu dia mau sebentar saja mendengarkan
kata-kata eza terakhir, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin dulu
dia akan sempat mengucapkan kata selamat tinggal atau sekedar berkata “aku
pasti akan merindukanmu”.
“sahabat
macam apa aku ini? Aku memang terlalu egois, hanya memikrkan perasaanku saja,
maafkan aku eza aku telah menyia-nyiakan ketulusan persahabatanmu, aku janji
aku akan bangkit dan kembali menjadi safa yang dulu. Cepatlah kembali eza!”.
Lirih safa semabri mengusap air mata yang telah membasahi pipinya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar